Karyawan Bank Mulai Tersingkirkan Setelah Digitalisasi

Dari laporan keuangan beberapa bank, hanya BRI dan Mandri yang masih konsisten merekrut 3 karyawan setiap tahun. Belakangan ini jumlah karyawan bank mulai turun setelah adanya digitalisasi atau restrukturisasi organisasi. Jadi bisa dikatakan saat ini sejumlah bank memilih menggunakan digitalisasi dibandingkan untuk konsisten menambah karyawan.

Peran Digitalisasi terhadap Penekanan Karyawan Bank

Seperti yang disampaikan oleh econom institute for development of economic and finance (indef), Bhima Yudistira bahwa dengan menggunakan digitalisasi pada bank lebih menghemat biaya pengeluaran operasional sehingga tidak perlu menggaji karyawan terlalu besar. Peran cabang juga bisa dioptimalkan melalui digitalisasi ini. Selain itu, penurunan juga terjadi pada buku III dan IV yang mana modal inti dari 5 sampai 30 triliun.

Seperti yang dilansir dari Tirto bahwa dari sejumlah bank 3 tahun terakhir hanya BRI dan Mandiri yang menambah karyawan setiap tahunnya. Berikut ini adalah data dari kedua bank. Jumlah karyawan Bank BRI pada Desember 2016 mencapai 58.885, sedangkan tahun berikutnya merangkak naik menjadi 60.683, di tahun 2018 mengalami sedikit penurunan yaitu 60.553 orang. Untuk bank Mandiri hampir serupa setiap tahunnya mengalami kenaikan yaitu 38.307, 38.904 dan 39.809.

Kedua bank dengan plat merah di atas, berbeda dengan Bank Central Asia TBK yang sebelumnya telah menambah banyak karyawan, sejak tahun 2017 mengalami penurunan. Jika menilik data maka pada tahun 2016 BCA mempunyai karyawan mencapai 25.073 dan mengalami peningkatan 1,5% pada tahun selanjutnya yaitu 25.439. Tetapi pada tahun 2018 mengalami penurunan 2% di mana menjadi 24.941 karyawan.

Alih Fungsi Tugas Karyawan Di Era Digitalisasi

Seperti penuturan Direktur Central Capital Ventura BCA, Armand Widjaja bahwa sebenarnya jumlah pegawai di Bank BCA tidak mengalami penurunan secara signifikan, karena pihak pegawai judi togel hongkong eksiating juga tetap dioptimalkan dengan baik, hanya saja dialihkan fungsi untuk pengembangan layanan.

Sejak era krisis pada tahun ’98 BCA selalu menambah karyawan, akan tetapi sampai saat ini ada penyusutan sedikit karena masa kerja. Adanya digitalisasi tidak lantas melakukan PHK ke pegawai, mereka tetap melakukan perkembangan dengan karyawan, jika ada shifting hal itu juga sepertinya wajar. Itulah gambaran besar yang ia sampaikan.

Pendapat yang hampir sama dilontarkan oleh Direktur Kepatuhan Bank Negara Indonesia (BNI), Endang Hidayatullah yang mana antara kebutuhan karyawan akan berubah sesuai dengan perkembangan digital. Alih fungsi sudah mencapai 60% di mana karyawan telah digantikan teknologi digital yang biasanya dilakukan sehari-hari. Jumlah ini tentu bisa bertambah lagi seiring dengan kemajuan teknologi dan digitalisasi.

Jika ditinjau, BNI juga mengalami penurunan sejak tahun 2016 sampai 2018. Jumlah angka tersebut yaitu 28.184, 27.209, dan 27.015 orang. Sedangkan bank yang mengalami pemotongan karyawan terbanyak berada di Bank Danamon di mana pada tahun 2016 mempunyai karyawan mencapai 44.019. Pada tahun berikutnya yaitu 2017 cukup signifikan yaitu 36.410. Pada tahun 2018 mengalami penurunan kembali menjadi 32.229.

Seperti yang disampaikan oleh Ketua Serikat Pekerja SP Danamon, Abdoel Moejib, gambaran besarnya bahwa pemotongan karyawan di era disruptif ini memang tidak bisa dihindarkan. Porsi pengurangan karyawan mulai dari front office sampai back office. Bahkan dulu ada pengurangan pada analis kredit di setiap cabang. Setiap cabang jumlahnya hampir ada 12 orang dan saat ini cuman 2 orang saja sudah cukup karena memang adanya alih fungsi dengan perkembangan digitalisasi yang ada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *